Senin, 09 Februari 2015

Ucapan yang Terlambat #11


Harusnya aku menuliskan surat ini 2 Februari lalu, mengingat hari itu merupakan hari spesial buatmu. Entah apa yang kupikirkan saat itu. Bisa-bisanya aku melewatkan yang istimewa bagimu.

Aku tidak tahu harus bagaimana menghubungimu. Semua kontakmu hilang begitu saja. Keberadaanmu seakan lenyap ditelan senyap. Hening. Tak ada lagi kegembiraan yang selalu kau berikan dulu. Tak ada lagi canda, tawa, pun duka yang kerap kau bagikan padaku. Sepi.

Bukan aku bermaksud mencampuri hidupmu, hanya saja aku merasa tak biasa dengan ketiadaanmu. Kau inspirasi atas baris demi baris yang kutulis. Tapi mengapalah sekarang justru kau yang menghilang, mengabaikan huruf huruf buah pikiran. Mungkin saja mereka merindukan tarian pada jemarimu. Kau tak pernah tahu kan, berapa besar akibat yang kau sebabkan karena ide-ide yang kau tuang. Kau juga tak pernah tahu, berapa besar kau membuka mataku; menginspirasiku.

Untuk dua puluh tiga tahunmu, aku layangkan harap agar kau selalu bahagia. Agar tak ada lagi umpatan-umpatan atas ketakadilan yang kau rasa. Agar tak ada lagi tetes air mata yang menggenang karena rasa rindumu pada sosok ibu. Untuk doa lain yang kau sematkan, tak akan lupa aku aamiin-kan.

Selamat ulang tahun, Dr. Hyde. Semoga senyum selalu terlukis di wajahmu.



Surabaya, 9 Februari 2015.
Dari yang menunggu kemunculanmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar