Kamis, 12 Februari 2015

Kesalahan Terindah #14


Surat ini untukmu yang pernah berkata, "Seandainya kita dipertemukan lebih awal."
Hingga detik ini, aku masih terngiang ucapmu. Terngiang getar yang terasa pada suaramu yang lirih. Terngiang hela nafas yang berat. Terngiang jeda yang panjang.

Momen itu. Momen di mana pertarungan dalam diri terjadi sedikit terlalu sengit. Walau hati terasa berat melepasmu, otakku tetap bersikukuh untuk membiarkanmu pergi. Tak peduli betapa besar keinginan egoisku untuk mendekapmu, logika sehatku selalu menang. Ada satu bisikan yang, entah dari mana asalnya, tak pernah alpa mengingatkanku bahwa kita memang tidak ditakdirkan bersama.

Takdir? Kau pernah berkata padaku bahwa kau tak percaya takdir. Seketika itu, aku menautkan alis, siap mengajakmu berargumen. Setelah debat panjang yang menghabiskan dua gelas cokelat panas dan segelas cappuccino yang kita pesan, kita sepakat bahwa kau dan aku tidak harus mempermasalahkan ini. Kau bilang, kita sudah menarik begini adanya; kau dengan prinsipmu dan aku dengan teoriku. Tapi, dasar kita. Rasanya pertemuan-pertemuan berikutnya yang terjadi kurang sah tanpa adanya sedikit argumentasi. Yang justru berakhir dengan senyuman di kedua sisi.

Kau satu-satunya lelaki yang membuatku betah berlama-lama mendekatkan ponsel ke telinga. Padahal, kau tahu kan, aku tidak pernah suka menerima panggilan telepon kecuali untuk hal-hal yang sifatnya mendesak. Tapi, dasar kau. Bisa-bisanya kau membujuk hati untuk terus mendengar suara serakmu. Yang justru membuatku merasa kehilangan saat namamu tak kunjung muncul dalam layar ponselku.

Aku tidak pernah menyesali keputusanku memintal memori denganmu. Hidupku terasa lebih semarak dengan warna yang kau rajutkan pada hari-hari. Tak dipungkiri, hadirmu membawaku pada dunia baru, dunia yang belum pernah kudatangi. Namun kemudian warna-warna itu memudar, seiring dengan hambatan yang kian hari kian membentang. Kau selalu yakinkan aku bahwa kita bisa lewati ini, bahwa kau tidak pernah menyalahkanku. Kau tidak pernah menyalahkan dia. Kau hanya berkata, semua terjadi di saat yang tidak tepat. Tapi, dasar aku. Aku tak ingin kau menyalahkan dirimu sendiri, apalagi sampai menyalahkan takdir. Yang justru mengantarkan aku pada perpisahan itu; perpisahan kita.

Aku masih ingat betul hari di mana aku, dengan berat hati, harus memandangmu untuk terakhir kalinya. Mendengar suaramu untuk terakhir kalinya. Merajut kenangan untuk terakhir kalinya. Malam itu, kau mengajakku ke sebuah tempat. Aku ingin perpisahan ini kau kenang selalu, katamu. Maka, di sanalah aku duduk. Memerhatikan petikan-petikan senar gitarmu. Mendengarkan alunan nadamu. Menangis dibunuh detil lirik yang keluar dari bibirmu.

Semakin ku menyayangimu,
semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini,
kita tak mungkin trus bersama...

Terima kasih untuk tiga bulan yang membuatku kembali hidup. Terima kasih untuk membiarkanku merasakan dunia yang berbeda. Terima kasih untuk perasaan yang masih tersisa. Terima kasih, Ezra.



Surabaya, 12 Februari 2015.
Dari yang diam-diam (pernah) ingin merebutmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar