Sabtu, 07 Februari 2015

Tersenyumlah #9


Dunia ini seimbang. Kebahagiaan dihadirkan setelah kesedihan. Kesehatan dihadirkan setelah kesakitan. Cinta dihadirkan setelah benci. Pun sebaliknya. Yin dan yang.

Aku ingat saat kau bercerita padaku tentang dia yang tiba-tiba saja meninggalkanmu. Kau tak pernah siap kehilangannya. Menurutmu, kau sudah serahkan seluruh hati padanya. Tak tersisa apapun dalam rongga dadamu kini. Kosong. Hampa. Bahkan untuk tidur dan melupakannya sejenak saja tak bisa. "Dia selalu menghantui mimpi-mimpiku," begitu katamu.

Aku ingat saat kau bilang, "Aku menyakitinya. Dan dia lakukan hal yang sama padaku." Karmakah itu? Hanya kau yang bisa jawab. Kau memang teman baikku, tapi aku tak berhak memberi penilaian apapun atas hidupmu. Meski aku pernah berada pada situasi yang sama, nyatanya aku tak pernah berjalan di atas sepatumu. Tak pernah berada pada posisimu sebagai kau. Maka yang dapat kulakukan untukmu hanyalah menjadi seorang pendengar yang baik.

Aku ingat saat kau akhirnya berhenti meratapi semua kesalahan yang pernah kau lakukan. Di sudut kedai kopi suatu sore, aku dengar kau berkata, "Hidup ini bukan untuk diratapi." Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Walau kita hanyalah dua remaja berseragam abu-abu putih kala itu, kurasa sudah saatnya kita berpikir dewasa. Tak selalu andalkan emosi dan perasaan semata. Detik itu, kau sudah memulai fasenya. Aku banyak belajar dari cerita-ceritamu yang kudengarkan.

Sekarang kau baik-baik saja. Kau sudah pahami bahwa apa yang kita miliki tak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, semuanya akan terenggut dari genggaman. Yang harus kita lakukan selama masih bersamanya adalah menikmati waktu dengan baik dan menghargainya. Terkadang kita suka lupa diri, bertingkah sangat angkuh dengan menganggap kitalah satu-satunya pemilik. Padahal faktanya, setiap inci yang ada di dunia ini hanyalah titipan. Sebagai pemilik sementara, apa yang akan kita lakukan padanya ada di tangan kita: menjaga sebaik-baiknya atau menyia-nyiakannya percuma.

Meskipun semburat kesedihan sesekali tergambar dalam wajahmu, kau tak serapuh dulu. Yang pernah kau lalui biarlah menjadi catatan dalam hidupmu. Bahwa dunia memang tak bisa direncanakan semau kita. Bahwa tidak akan ada luka yang tetap menganga. Bahwa penyesalan tidak pernah menyapa di awal cerita.
Tenang saja, kawanku. Tataplah dunia dengan senyuman. Dengan begitu, dapat kupastikan kau akan bertahan.



Surabaya, 7 Februari 2015.
Dari yang bersiap menyambut kerasnya kehidupan.

P.S.: Sebaiknya kau baca surat ini sembari mendengarkan Forever The Sickest Kids - Chin Up Kid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar