Sabtu, 14 Februari 2015

Sederhana Saja #16


Kau bilang, hidup tak ubahnya sebuah kamera. Fokuskan diri pada hal paling esensial dan biarkan hal lain di sekelilingmu menjadi ornamen untuk memperindah. Pagi itu, kau ucap kalimat yang kini menjadi favoritku sembari menunjukkan hasil buruanmu. Sebuah gambar di mana aku tertawa lebar dengan sebuah gelembung sabun tepat di atas kepalaku. Aku masih bisa mendengar dentuman keras yang tiba-tiba menyeruak dalam diri, yang sepersekian detik kemudian diiringi dengan gumaman batin, "Sial. Sepertinya aku jatuh cinta."

Ya. Tepat setelah ujung sikumu menyenggol lenganku, aku jatuh cinta. Tepat setelah gesekan suara rumput yang timbul akibat sepatumu, aku jatuh cinta. Tepat setelah aku tak sengaja memegang jemarimu, aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada caramu membuatku jatuh cinta; mengingatkanku bahwa kesederhanaanlah yang membuat kita bahagia.

Katamu, aku terlihat sangat lepas pagi itu. Seolah tak ada satu hal pun yang mampu membebaniku. Katamu, kau bahagia melihatku kembali lemparkan tawa pada awan dan rerumputan. Katamu, kau tidak perlu susah-susah mencari umpan untuk kamera besarmu karena senyuman yang tak letih mengembang dari bibirku. Katamu, membahagiakan aku tidak sulit: cukup mengajakku menikmati angin di lapangan penuh ilalang serta memberikan sebotol gelembung sabun seribuan. Katamu, "Kebahagiaanmu sederhana sekali."

Ya. Kebahagiaanku sesederhana mengagumi indahmu tanpa suara.

Barangkali kau berpikir aku gila, bisa-bisanya jatuh cinta pada seorang yang bahkan tak pernah berusaha membuatku jatuh cinta. Hingga kini, aku tak pernah bisa ungkapkan alasan memilihmu sebagai tempat terjatuh. Semua terjadi begitu saja. Kau bahkan (sepertinya) tidak pernah berniat membuatku jatuh cinta. Ah, aku memang aneh. Murah sekali perasaanku, disogok sebuah senyuman dengan beberapa kerutan di sekitar mata dan sebotol gelembung sabun saja sudah luluh. Padahal seharusnya aku meminta lebih, satu buket bunga mungkin. Atau, satu kotak cokelat merek ternama. Tapi nyatanya, hatiku dan tingkah lakumu seakan berkonspirasi untuk membuatku terlihat mudah. Dasar kau menyebalkan!

Asal kau tahu saja, hei lelaki penggemar warna biru. Selain tak berhenti merutuki diri sendiri karena jatuhkan hati pada sosokmu, aku juga tak berhenti semangati diri untuk tetap bertahan mencintaimu dalam kesunyian. Menjadi seorang yang menyebalkan tidak cukup untuk mengalahkan perasaan yang terlanjur tumbuh. Kalau sudah begini, kau mau apa, hm?

Maaf karena aku masih merawat perasaanku dalam keheningan ini. Mengutip Sheila on 7 –musisi favoritmu–, "Mungkin kau tak akan pernah tahu betapa mudahnya kau untuk dicintai."



Surabaya, 14 Februari 2015.
Dari yang menikmati kesederhanaan mengagumimu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar