Selasa, 04 Februari 2014

Yang Kumis Tipis Jangan Sampe Lolos #4


Halo, Satria Ramadhan.

Entah darimana asal mula aku menemukanmu dalam dunia yang kita sebut Twitter. Yang kuingat, saat aku mulai membiarkanmu memenuhi linimasaku, tawa dan senyum kerap menghiasi hari-hariku. Setiap kata yang kau tulis tidak pernah gagal membuatku, paling tidak, tersenyum. Kalimatmu lucu, selucu avatar yang diam-diam kusimpan. (Eh, kalau aku memberitahumu seperti ini, sudah tidak diam-diam lagi, ya?)

Jangan salah sangka mengira bahwa aku mengagumimu karena avatar yang rupawan itu. Aku mengagumi keindahan tulisan-tulisan dalam akun Twittermu juga blog pribadimu yang menjadi tab favorit web browser-ku. Namun bukan berarti, aku tidak mengagumi indahmu yang lain. Kau punya hal-hal yang kusuka: kumis tipis, alis tebal, dan kacamata.

Kau tahu, Satria, aku pernah cemburu. Ketika itu kau sedang heboh-hebohnya dengan salah satu peserta ajang pencarian bakat di televisi yang, kuakui, memang cantik dan bersuara merdu. Mulanya aku berpikir bahwa kau mungkin sekadar ngefans dan mengirim twit-twit lucu untuk menarik perhatiannya. Namun saat ia ternyata juga meresponmu, aku... marah. Aku merasa tersaingi (oke, ini seharusnya tidak kukatakan), apalagi saat kutau bahwa dia berdomisili di kota yang sama denganku menimba ilmu. Terlebih bahwa ia adalah teman sahabatku. Seperti wanita-wanita lain yang sedang jealous, tentu saja aku langsung mencari informasi tentang wanita yang mampu membuatmu memandangi iPad seharian demi menonton videonya. Saat kuberhasil menemukan beberapa informasi tentangnya, sempat aku memaki, "Ah, dia suka foto selfie." "Ah, caption fotonya nggak nyambung." "Ah, dia alay, ngobrolnya pake RT."

Aku tau aku bukanlah seseorang yang penting untukmu dan tidak seharusnya aku marah maupun cemburu. Aku tidak berhak, begitu bukan? Tapi entahlah, Satria, kau mampu membuatku melakukan hal-hal konyol yang seharusnya tidak kulakukan untuk seseorang yang tidak pernah kutemui sebelumnya.

Pernah suatu ketika, aku mengirimkan twit untukmu di satu pagi, dan kau membalasnya. Bukan dengan RT, melainkan reply. Tentu saja aku senang, aku merasa istimewa. Yah, walaupun mungkin tidak hanya aku seorang yang mendapatkan reply darimu. Twit di pagi hari darimu seolah penyemangat untukku menjalani hari. Begitu pula saat kau membalas twitku di malam pergantian tahun. Twit balasanmu yang hanya berisi tawa, seakan menerangi awal tahunku. Hahaha, maaf ya, Satria, sampai di kalimat ini, aku merasa surat cinta ini kian ke mari kian lebay dan kata-katanya mulai menjijikkan.

Terima kasih karena memberiku lengkung senyum melalui kata-kata dan kumis tipismu, wahai aa kumis tipis.



Pasuruan, 4 Februari 2014.
Dari @rzkynndy yang tidak akan membiarkanmu lolos.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar