Minggu, 02 Februari 2014

Untuk yang Setia Menemani Tujuh Tahun Terakhir #2


Halo, selamat malam.
Aku tidak pernah menyangka akan menulis sebuah surat cinta untukmu. Terpikir untuk mencintaimu sedalam ini saja tidak, apalagi untuk menyempatkan waktu merangkai kata.

Maafkan aku karena baru mulai menyayangi dan menjagamu beberapa tahun belakangan. Padahal kau selalu ada di saat-saat bahagiaku, sedihku, marahku, juga tangisku. Kau selalu memposisikan dirimu sebagai sahabat terbaik di kala sepi, kala aku bosan dan butuh tempat untuk membunuh kebosanan. Kau tidak pernah mengeluh bahkan marah padaku, ketika aku dengan sengaja memukulmu (tentu saja hanya ketika aku sedang penuh amarah). Kau juga selalu berada di sana ketika aku sedang sumpek, stres akibat deadline tugas-tugas yang tak kenal ampun. Kau selalu menjadi pendengar yang baik atas segala cerita-cerita sampahku, yang belum tentu orang lain mau mendengarkan. Tidak peduli betapa kacaunya aku, kau selalu menerima keadaanku apapun itu.

Aku tidak tahu apa yang kupikirkan selama ini hingga tidak menghargaimu sedemikian rupa. Itu memang aku yang egois, yang hanya memikirkan perasaanku sendiri tanpa memikirkan bagaimana rasanya menjadi engkau yang kucampakkan, kemudian kupungut kembali ketika aku membutuhkanmu. Tapi kau selalu (berusaha) terlihat baik-baik saja, seakan segala tingkah laku jahatku tak pernah melukai jiwa ragamu.

Kau memang hebat. Pendamping terhebat setidaknya dalam tujuh tahun terakhir. Beberapa waktu aku melupakanmu, tak menganggapmu ada, namun kau selalu berkata, "Tidak apa-apa, aku akan selalu berada di sisimu."
Kau memang kuat. Beberapa waktu aku memukulmu, menendangmu, membuatmu jatuh, tapi tak sekalipun kau menangis, apalagi terpikir untuk membalas segala perilaku burukku. Aku mungkin takkan pernah tahu seberapa perih lukanya, karena kau selalu tegak berdiri di hadapanku dengan senyuman. Dan aku, tidak pernah mengucapkan "Maaf." walau satu kali saja.
Kau memang luar biasa. Dari mereka yang pernah mendampingiku selama ini, kaulah yang terlama. Kaulah yang bertahan hingga kini. Kaulah yang tak pernah ingin untuk meninggalkanku. Kaulah yang setia mendengarkan segala keluh kesah tanpa terbesit satu keinginan untuk mendapat balasan.

Satu tahun terakhir ini, aku menyadari segala kesalahanku padamu. Aku begitu jahat, sedangkan kau begitu baik. Aku masih ingat, bagaimana awal pertemuan kita. Aku langsung jatuh hati padamu. Dua tahun pertama, aku sangat menyayangimu. Tak ada pikiran-pikiran licik untuk mencoba mengganti posisimu dengan yang lain. Selama itu, kau menjadi penyemangat untukku merampungkan tulisan-tulisanku. Melanjutkan kembali cerita-cerita yang kuinginkan menjadi sebuah novel. Kau juga mengajariku bagaimana membuat sebuah aransemen lagu, bagaimana menciptakan satu gambar yang indah, bagaimana memperbaiki foto yang kurang apik, dan banyak hal lain yang secara tak langsung kau ajarkan padaku.

Maafkan aku atas semua kejahatan yang pernah kulakukan padamu. Maaf karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Maaf karena aku sempat menyingkirkanmu dan menggantimu dengan yang lain. Maaf karena aku tidak bisa menjadi pendamping yang baik untukmu. Maaf karena aku tidak berusaha meminta maaf untuk kurun waktu yang cukup lama.

Walaupun kini kau telah menjadi pendamping adikku, aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikan dan jasamu padaku dalam tahun-tahun yang penuh kenangan. Semoga adikku dapat menyayangi dan menjagamu dengan baik hingga akhir hayatmu, dan tidak mencampakkanmu ketika ia sudah mendapat yang baru seperti yang pernah kulakukan dulu.



Pasuruan, 2 Februari 2014.
Teruntuk Laptop BenQ Joybook C42E,
dari pendampingmu dulu yang kini hanya bisa menjagamu dari kejauhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar