Rabu, 05 Februari 2014

Kepada Angin #5


Angin,
sudah banyak cerita tentang kebahagiaan pun kesedihan yang kuceritakan padamu. Tak jarang aku memintamu untuk menyampaikan pesan-pesan yang ingin kusampaikan pada mereka di luar sana, yang tak sangggup kusampaikan sendiri. Kau tahu kan, bagaimana aku yang sesungguhnya?

Angin,
aku tidak membenci mereka yang salah menilai pribadiku. Aku tidak menyalahkan mereka yang lebih suka mendengarkan cerita tentangku dari orang lain yang belum tentu tahu kebenarannya dibanding dari mulutku sendiri. Itu hak mereka untuk memilih mana yang ingin mereka dengar. Ya, walaupun kadang hal itu melukai perasaanku.

Hai Angin,
aku tidak tahu apakah kau menyampaikan pesan-pesanku pada mereka seperti yang kuamanatkan padamu di hari yang lalu. Aku juga tidak pernah tahu apakah mereka mendengar pesanku melaluimu. Mungkin mereka tahu, mungkin saja tidak. Aku tidak memaksamu untuk melakukan amanatku, aku hanya berharap.

Harusnya aku tidak usah berharap apapun pada siapapun, benar kan, Angin? Bukankah aku sudah pernah tertampar kenyataan bahwa harapan yang tinggi akan membuahkan kekecewaan yang mendalam? Tapi seakan aku tidak pernah kapok, aku kembali berharap, berharap, dan berharap lagi.

Angin,
terima kasih karena menjadi media penyampai gelisah dan keluh kesah. Walau (mungkin) tak pernah kau sampaikan apa yang seharusnya disampaikan.



Pasuruan, 5 Februari 2014.
Dari temanmu yang selalu ada saat sepi sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar