Sabtu, 22 Februari 2014

Kecuali Kamu #22


Selamat malam, lelaki dengan kacamata berbingkai hitam.
Hari ini kau meneleponku. Dari seberang telepon kudengar kau akan kembali menuju kota tempatmu belajar (kota tempat kita belajar, lebih tepatnya) hari Senin pagi. Tanpa perlu kutanya, kau tau-tau saja sudah bercerita mengenai hari Minggu besok, yang katamu akan sangat membosankan. Untuk hal ini, aku biasanya akan memprotes siapapun yang memberi penilaian akan sesuatu padahal ia belum tau kebenarannya. Tapi denganmu, aku tidak melakukannya.

Aku juga tidak pernah suka ditelepon dan menelepon, kecuali dalam keadaan yang sangat terdesak. Kau tau kan, suaraku terdengar sangat aneh dan tidak mencerminkan suara seorang wanita sama sekali jika didengar melalui sambungan jarak jauh itu. Tapi, lagi lagi, denganmu, aku tidak mempermasalahkannya.

Tadi kau bertanya bagaimana hari-hariku selama melakukan perjalanan lima hari empat malam. Kubilang padamu bahwa semua yang kualami tidak bisa dibeli dengan uang. Aku tidak mendengar adanya nada terkejut dalam hela nafas dan suaramu. Itu pasti karena kau sudah pernah mengalami apa yang kualami sebelumnya, benar begitu?

Hari ini aku membaca satu buku lama yang kutemukan di dalam rak buku tua di kamar. Biasanya aku selalu mengabaikan anjuran orang-orang di dekatku untuk tidak membaca buku dengan posisi tidur. Tapi denganmu, aku langsung mengubah posisiku saat itu juga tanpa sedikitpun mengeluh.

Apa yang sudah kau lakukan terhadap alam bawah sadarku?



Pasuruan, 22 Februari 2014.
Dari yang menjadikanmu sebuah pengecualian istimewa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar