Rabu, 26 Februari 2014

Kehilangan Itu Sakit #26


Tidak seperti surat-suratku sebelumnya, kali ini aku tidak mengawali surat yang ke-dua puluh enam ini dengan sapaan. Hai dan halo yang biasa kulontarkan begitu kalian membaca suratku, kusimpan dahulu. Tidak ada alasan khusus memang, hanya saja surat yang ini kutujukan buat diri sendiri.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kehilangan apapun akan menorehkan paling tidak sedikit luka. Hari ini, aku merasakan satu kehilangan yang sakitnya luar biasa. Bahkan dengan menangispun tak dapat menyembuhkan lukanya dalam sekejap. Namun dari pengalaman kehilanganku hari ini, aku dapat menarik satu poin yang selama ini mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya: beberapa kehilangan diciptakan untuk kebaikan diri di masa depan.

Di era seperti ini, jaman yang dipenuhi remaja-remaja galau soal asmara, banyak dari kita para remaja yang seringkali merasakan kehilangan seseorang yang dicinta. Entah itu pacar, gebetan, teman, juga keluarga. Tidak sedikit dari kita yang kerap menyalahkan waktu dan keadaan, bahkan Tuhan, karena mengambil mereka yang kita cinta tanpa permisi. Di titik itu, kita pasti belum menyadari bahwa semua yang kita punya di dunia ini hanyalah titipan semata, yang bisa diambil oleh yang Maha Punya kapan saja tanpa perlu meminta persetujuan dari tiap-tiap kita.

Munafik rasanya kalau aku berkelit bahwa aku selalu ikhlas saat dilanda kehilangan. Kadang aku marah dan kecewa, kadang juga bertanya-tanya, mengapalah diciptakan satu perasaan yang disebut cinta jika pada akhirnya kita harus merelakan yang kita cinta? Bukankah lebih baik kita tidak perlu merasakan apapun daripada harus merasa sakit pada akhirnya?

Namun, hari ini, aku mengerti mengapa kita harus belajar ikhlas merelakan segala sesuatu yang hilang. Karena memang beberapa kehilangan diciptakan untuk kebaikan diri di masa depan. Mungkin kita belum memahami di mana sisi baik untuk diri pada saat ini, namun seperti kata pepatah: waktu akan menjawabnya.

Kehilangan memang sakit. Tapi percayalah, bahwa di setiap yang pergi, ada yang datang.



Pasuruan, 26 Februari 2014.
Dari yang sedang menerka-nerka kapan saat baik itu tiba.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar