Selasa, 26 Februari 2013

#17. Tentu Saja Sulit

Halo.

Beberapa hari lalu aku kunjungi sebuah rumah sakit. Aku benci rumah sakit. Ia membuatku mengingat bagaimana aku dirawat di sebuah rumah sakit saat aku celaka dulu dan membuat kau mengkhawatirkanku sedemikian paniknya. Maafkan aku karena membuatmu khawatir, aku tidak pernah bermaksud begitu.

Aku ingat, kau bercerita padaku bahwa kau terima kabar tentangku yang mengalami kecelakaan motor dan harus dioperasi. Saat itu kau bilang kau seperti orang gila yang mencari ruangan tempatku dirawat dan bertanya kesana kemari. Aku tersenyum miris sambil membatinkan berulang kali kata maaf.

Kehadiranmu kala menjengukku tentu terlihat oleh teman-temanku dan keluargaku. Saat itu aku memang sedang dekat dengan seseorang yang, ya, kau tahu. Dan aku, dengan ketaksadaranku, mengabaikanmu. Aku menyesalinya.

Kau pasti tak tahu bahwa selepas kau langkahkan kaki keluar dari pintu ruangan di mana aku dirawat, tanteku berkata, "Itu tadi pacarmu ya, mbak? Anaknya baik, ganteng, mami setuju kalau kamu sama dia. Kasian lo dia habis kuliah langsung ke sini jengukin kamu, mbak."
Aku tersenyum.

Sedang mama berkata, "Mush'ab kasian lo mbak, jangan disuruh kesini terus ta. Dia tadi katanya mau ngerjain tugas. Kalau sibuk ya gakpapa gak usah dipaksain jengukin kamu."
Aku hanya mengiyakan.

Hei, kau tahu? Kau adalah lelaki pertama yang mendapatkan kepercayaan keluarga serta orang tuaku untuk menjagaku ketika aku sakit dan mempercayaimu dengan meninggalkan kita berdua di ruangan itu. Keluarga dan orang tuaku bukanlah tipe manusia yang mudah mempercayai lelaki untukku, apalagi sampai meninggalkan kita berdua saja. Kau tentu ingat, mamaku mempercayakanmu untuk menyuapiku makanan hanya agar aku mau makan. Ah, itu lucu. Mama dan papa mana pernah setuju seorang lelaki sampai menyuapiku. Kau memang hebat.

Temukan penggantimu yang bisa mendapatkan kepercayaan sebesar itu dari keluarga dan orang tuaku bukanlah hal yang mudah. Uh, aku ingin ceritakan ini padamu dan pelukmu erat saat ini. Sayangnya, aku tak bisa.


Tertanda,
Aku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar