Selasa, 25 Desember 2012

#8. Sayangnya, Bukan Kita

Halo.

Sudah lama ya, aku tidak ceritakan bagaimana aku merindukanmu dan bagaimana hal-hal di sekelilingku menanyakan keberadaanmu? Harusnya kau tahu bahwa aku akan selalu merindukanmu dan bahwa hal-hal di sekelilingku tak pernah henti tanyakanmu.

Kau dan aku bertemu hari ini. Di rumahku. Senang? Tentu saja. Telah sekian lama kupendam rasa rindu yang kini makin menumpuk semenjak kau langkahkan kaki keluar dari rumahku tadi. Ah, bertemu kau selalu menimbulkan rasa bahagia namun juga rindu yang takkan pernah ada habisnya. Baru saja kau menemuiku, namun sekarang aku telah merindukanmu (kembali).

Ada satu hal sederhana yang kau dan aku lakukan tadi. Mengambil gambar kau dan aku. Berdua. Duduk di ruang tamu rumahku sebagaimana yang biasa kau lakukan, lalu membuka komputer jinjing milik mama, dan snap! Kita berpose ini dan itu sambil tertawa riang.

Riang?
Sungguhkah tawamu riang?
Bagaimana dengan tawaku?
Tentu saja tawaku sedemikian riang. Aku masih menyayangimu, kau ingat?
Entah sudah berapa lama kita tak lakukan hal sepele yang konyol namun membahagiakan seperti ini.

Saat ini, aku ketik tulisan ini sambil pandangi foto-foto kita yang terjepret tadi siang. Lucu. Ekspresimu tidak pernah berubah. Aku menyukainya, walau kadang kau sungguh menjengkelkan karena posemu yang monoton.

Terima kasih karena membuatku bahagia hari ini. Terima kasih karena masih menyempatkan menengokku yang sejujurnya, merindu setengah mati. Terima kasih karena, entah benar entah tidak, kau masih simpan perasaan itu untukku. Terima kasih karena sudah mau menuruti permintaan bodohku untuk mengambil foto kita bersama.

Ah, sayang sekali foto ini bukanlah foto 'kita'.



Tertanda,
Aku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar