Minggu, 28 Oktober 2012

#1. Sepeninggal Kau

Halo.

Selepas kepergianmu, aku tidak menghilangkan jejak-jejak yang kau tinggalkan. Kalau kau kira ini mudah bagiku, kau salah besar. Kalau kau kira aku tak menyesali semua, kau salah besar. Kalau kau kira aku sudah tak cintaimu, kau salah besar.

Semua yang aku lalui hingga detik ini, masih membawaku pada memori akanmu. Layaknya hari ini. Radio mobil memutar lagu yang biasa kita nyanyikan berdua. Ya, kita. Ketika kau mencinta dan aku dicinta, pun sebaliknya. Mendengarnya, aku tersenyum. Walau ada cekat di tenggorokan yang sedikit memaksa air mata. Kutahan. Kemudian tanpa sadar ikut menyanyikan liriknya. Dan memori akan betapa bahagianya kita dulu, terputar begitu saja dalam benak.

Aku memang seharusnya menghapus segala kenangan yang mungkin dapat melukaiku kapan saja. Namun siapa yang tak tahu bahwa kenangan tidak dapat terhapus walau sekeras kita mencoba?

Tidak sedikit yang kuketahui tentangmu, tentang kita. Tidak sedikit yang kau ketahui tentangku, tentang kita. Perjalanan romansa ini memang cukup lama kita lalui, bahkan aku pun merasa, kau mengenalku lebih baik dibanding diri ini.

Ini surat pertamaku untukmu. Coba bayangkan akan sebanyak apa surat ini nantinya.

The best thing about tonight that we're not fighting
Could it be that we have been this way before..
I know you don't think that I am trying
I know you're wearing thin down to the core..


Tertanda,
Aku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar