Sabtu, 01 Maret 2014

Jangan Meredup #29


Hei kau, perempuan yang penuh energi.
Jangan kira aku tak tahu apa yang sedang kau alami saat ini. Walau kau tak pernah bercerita banyak, aku bisa melihat dari sorot matamu yang kadang sendu. Bukannya aku mau sok tahu, tapi percayalah, aku pernah berada di posisimu. Di posisi yang menuntut kita untuk tetap tersenyum dan ceria di manapun kapanpun tanpa pedulikan hati yang sedang kalut.

Akhir-akhir ini, kulihat pandanganmu sering menerawang jauh. Entah apa yang sedang kau pikirkan namun kuyakin, itu pasti bukanlah hal yang bisa kau atasi dengan mudah. Ketahuilah, wahai perempuan yang penuh energi, kau tidak sendiri. Jika kau butuh tempat untuk meluapkan dan melupakan segala beban barang sebentar, kau bisa panggil aku. Kau bisa datangi aku kapan saja. Dengan senang hati aku akan mendengarkan keluh kesahmu, cerita-ceritamu, karena aku tahu rasanya tidak didengar dan tidak punya siapapun untuk berbagi duka.

Hai perempuan yang penuh energi,
kau pernah berkata padaku bahwa kau marah pada dunia. Bahwa dunia tidak pernah adil. Bahwa untuk mendapat sedikit simpati saja harus berparas cantik. Bahwa untuk dihargai saja harus menjadi penjilat. Aku memahami amarahmu. Aku juga pernah memikirkan hal yang sama. Namun kau salah. Kau cantik, dalam caramu sendiri yang memang tak semua orang dapat lihat dengan kasat mata. Kau tidak perlu menjadi penjilat untuk dapat dihargai karena aku dan beberapa orang di sekeliling menghargaimu. Dunia memang tidak adil, sayang, namun ingatlah, ada sang Maha Adil.

Aku tidak ingin melihat energi-energi positif yang selalu kau pancarkan meredup, kemudian lambat laun menghilang. Aku ingin kau kembali bersinar seperti dahulu kala, kembali percaya diri, kembali menjadi dirimu yang kukenal selalu ceria di mana saja. Aku ingin kau tahu, aku akan selalu membantumu setiap saat kau butuh bantuanku.



Pasuruan, 1 Maret 2014.
Dari yang benar-benar memahami perasaanmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar