Minggu, 31 Maret 2013

#21. Hanya Engkau

Halo.

Rasa rinduku padamu memuncak.
Aku alami beberapa hari yang sulit akhir-akhir ini.
Aku butuhkanmu sebagai tempat untuk berbagi.
Aku ingin sandarkan lelahku pada bahumu.
Aku inginkan kau.


Tertanda,
Aku.

Jumat, 01 Maret 2013

#20. Terombang-ambing

Halo.

Lelaki yang dulu pernah dekat denganku dan kujadikan alasan berakhirnya hubungan kita (walau sesungguhnya tidak), kini aku sudah benar-benar berhenti menyukainya. Aku hanya menyukainya, mungkin mengaguminya, namun aku tidak pernah menyayanginya. Dia ada ketika aku kau tinggalkan. Kau biarkan begitu saja tanpa ada kabar yang jelas dan dengan perlakuanmu yang, ya, seperti yang kau tahu. Namun kini, aku sungguh-sungguh berhenti menyukainya.

Lelaki yang kusayangi dan kucintai selama ini tentu saja hanyalah kau.
Walau seperih apapun luka yang kau torehkan, rasa ini tidak pernah hilang, dan tidak bisa hilang walau sudah kupaksakan berulang kali.

Aku ingin kembali dalam pelukanmu. Namun tak mungkin aku katakan, karena aku masih dalam kepura-puraanku melepaskanmu.

Mungkin suatu waktu jika aku sudah tak sanggup lagi berpura-pura, aku akan mengatakannya langsung di depan matamu. Di depan tubuhmu. Di mana mata kita akan saling bertautan dan (dalam khayalanku) kau memelukku seraya tersenyum.


Tertanda,
Aku.

Kamis, 28 Februari 2013

#19. Tak Mungkin Aku Inginkan

Halo.

Aku sedang tergila-gila dengan lagu berjudul Percayalah yang dipopulerkan oleh Ecoutez. Bukan karena liriknya. Namun karena memang nadanya yang indah. Dan juga karena kau dulu pernah berjanji padaku untuk membuat sebuah cover lagu ini denganku. Hingga akhirnya aku membuat versi coverku sendiri. Sen-di-ri. Mana janjimu?

Lirik di dalamnya, aku tak menyukainya.
Percayalah kasih, cinta tak harus memiliki
Walau kau dengannya, namun ku yakin hatimu untukku
Percayalah kasih, cinta tak harus memiliki
Walau kau coba lupakan aku
Tapi ku kan selalu ada untukmu..

Aku tak pernah setuju dengan frasa cinta tak harus memiliki.
Jika kau memang cinta, maka kau harus memiliki.
Namun kau bisa sebut aku munafik.
Karena aku mencintaimu, namun tak ungkapkan keinginanku untuk memilikimu kembali sebab terhalang gengsi.


Tertanda,
Aku.

Rabu, 27 Februari 2013

#18. Adakah Cara?

Halo.

Sudah berulang kali aku mencari cara untuk melupakanmu karena kau tidak bersegera untuk menemuiku dan buktikan perubahanmu. Namun hasilnya selalu sama. Nihil.

Sekeras apapun aku mencoba untuk cari sesuatu yang dapat buatku lupa akanmu, sekeras itu pulalah aku teringat akanmu dan pikiran itu selalu penuhi benakku lagi. Ya. Pikiran kalau kalau kau memang sudah berubah dan kesempatan kedua untukmu sudah saatnya kuberikan.

Aku bukan tak sayangi kau lagi, aku hanya membutuhkan sebuah pembuktian.
Aku ingin kau tak menghindar dariku ketika aku tagih bukti itu. Karena aku menyayangimu, masih.


Tertanda,
Aku.

Selasa, 26 Februari 2013

#17. Tentu Saja Sulit

Halo.

Beberapa hari lalu aku kunjungi sebuah rumah sakit. Aku benci rumah sakit. Ia membuatku mengingat bagaimana aku dirawat di sebuah rumah sakit saat aku celaka dulu dan membuat kau mengkhawatirkanku sedemikian paniknya. Maafkan aku karena membuatmu khawatir, aku tidak pernah bermaksud begitu.

Aku ingat, kau bercerita padaku bahwa kau terima kabar tentangku yang mengalami kecelakaan motor dan harus dioperasi. Saat itu kau bilang kau seperti orang gila yang mencari ruangan tempatku dirawat dan bertanya kesana kemari. Aku tersenyum miris sambil membatinkan berulang kali kata maaf.

Kehadiranmu kala menjengukku tentu terlihat oleh teman-temanku dan keluargaku. Saat itu aku memang sedang dekat dengan seseorang yang, ya, kau tahu. Dan aku, dengan ketaksadaranku, mengabaikanmu. Aku menyesalinya.

Kau pasti tak tahu bahwa selepas kau langkahkan kaki keluar dari pintu ruangan di mana aku dirawat, tanteku berkata, "Itu tadi pacarmu ya, mbak? Anaknya baik, ganteng, mami setuju kalau kamu sama dia. Kasian lo dia habis kuliah langsung ke sini jengukin kamu, mbak."
Aku tersenyum.

Sedang mama berkata, "Mush'ab kasian lo mbak, jangan disuruh kesini terus ta. Dia tadi katanya mau ngerjain tugas. Kalau sibuk ya gakpapa gak usah dipaksain jengukin kamu."
Aku hanya mengiyakan.

Hei, kau tahu? Kau adalah lelaki pertama yang mendapatkan kepercayaan keluarga serta orang tuaku untuk menjagaku ketika aku sakit dan mempercayaimu dengan meninggalkan kita berdua di ruangan itu. Keluarga dan orang tuaku bukanlah tipe manusia yang mudah mempercayai lelaki untukku, apalagi sampai meninggalkan kita berdua saja. Kau tentu ingat, mamaku mempercayakanmu untuk menyuapiku makanan hanya agar aku mau makan. Ah, itu lucu. Mama dan papa mana pernah setuju seorang lelaki sampai menyuapiku. Kau memang hebat.

Temukan penggantimu yang bisa mendapatkan kepercayaan sebesar itu dari keluarga dan orang tuaku bukanlah hal yang mudah. Uh, aku ingin ceritakan ini padamu dan pelukmu erat saat ini. Sayangnya, aku tak bisa.


Tertanda,
Aku.